Selasa, 04 Januari 2011

Sejarah Perang Diponegoro


BAB I
PENDAHULUAN

I.Latar Belakang
Perang Diponegoro atau lazim disebut Perang jawa, adalah sebuah perang yang termasuk perang terbesar yag pernah dilakoni oleh bangsa di Nusantara yang melakukan perlawanan kepada pihak kompeni Belanda.adanya campur tangan yang sangat berlebihan dari pihak Belanda terhadap kehidupan keraton telah menjadi embrio kebencian yang nantinya akan melahirkan sebuah permusuhan yang berakibat pada perang besar yang dipimpin Pangeran Diponegoro.Belanda yang telah menjalin hubungan dengan keraton sejak zaman kerajaan Mataram, hubungan ini berlangsung sampai pada hasil perjanjian Giyanti yang membagi Mataram menjadi 2 yaitu Yogyakarta dan Surakarta, bagi Diponegoro yang berasal dari keraton Yogyakarta melihat campur tangan Belanda yang berlebihan pada kebijakan Keraton termasuk  kebiasaan-kebiasaan juga upacara-upacara keagamaan di keraton ini telah menguji kesabarannya dalam kehidupan di kalangan keraton, keadaan hasil perjanjian Giyanti 1755 dan perjanjian Salatiga 1757 juga adalah hasil intervensi Belanda yang bertujuan untuk melemahkan sisa daerah Mataram dan juga mempermudah pengawasan akan keraton dan sekitarnya., pun anexasi yang dilakukan oleh Belanda pada daerah-daerah bekas  taklukan Mataram masa Sultan Agung yang sedikit demi sedikit telah diambil alih oleh Belanda tujuannya tidak lain adalah untuk melemahkan posisi daerah sisa kerajaan mataram, termasuk Yogyakarta, daerah- daerah pesisir yang sangat strategis sifatnya bagi Mataram, telah diambil alih, kehidupan Istana telah didominasi kepentinag Belanda, puncaknya adalah pengukuran tanah leluhur Pangeran Diponegoro yang akan dijadikan jalan raya oleh Belanda tanpa izin dari Diponegoro[1] telah melunturkan kesabaran Diponegoro untuk segera bertindak dan melakukan perlawanan demi perubahan, pada bab-bab berikutnya akan kita bahas secara mendetail tentang ragam peristiwa yang membawa pada perang dahsyat ini.
BAB II
PEMBAHASAN

II  Pangeran Diponegoro.
             Diponegoro adalah seorang putra Sultan keraton Yogyakarta, dia dilahirkan di Yogyakarta 11 November 1785, Diponegoro lahir tepat sebelum matahari terbit,di hari Jumat wage, tanggal kelahiran ini dianggap bertuah oleh kepercayaan jawa, sama seperti kelahiran Soekarno, sang putra fajar, yang dianggap akan menjadi orang besar di masa dewasanya dan akan melakukan hal-hal besar yang akan berpengaruh pada kehidupan orang banyak dan membawa pembawa perubahan bagi orang di sekelilingnya. Bahkan dalam ramalan Jayabaya juga disebutkan bahwa tanggal kelahiran Diponegoro itu adalah hari dimana akan lahir seorang Ratu Adil2. nama kecilnya adalah Ontowirjo, Diponegoro adalah putra Sultan Hamengkubuwono III. oleh neneknya Ratu Ageng, janda Sultan yang I, Diponegoro ditempatkan di Tegalrejo, disinilah Diponegoro tumbuh menjadi laki-laki yang saleh dan santun dia lebih banyak belajar tentang agama dan kehidupan rohani daripada duniawi. Oleh karena itu Tegalrejo banyak dikunjungi orang yang hendak belajar agama. Diponegoro sangat suka mengembara* dan bertapa. Ia tokoh yang sangat tradisiomal dan intens pada kehidupan dalam istana dan budayanya, Diponegoro nantinya akan memegang peranan yang sangt vital bagi [perlawanan rakyat jawa terhadap Belanda, Diponegoro pula lah yang nantinya menjadi tumpuan dan nyawa pergerakan, hal ini dibuktikan dengan ditangkapnya Diponegoro dengan taktik licik Belanda dan setelah dia diasingkan maka secara otomatis perlawanan rakyat padam.
___________________________
2. Dr. Peter Carey, Asal Usul Perang Jawa (pemberontakan sepoy dan Lukisan Raden Saleh) Pustaka Azet                                                   1985 hal 17-24
.* Sewaktu Diponegoro mengembara dia mengganti namanya sebagai Sech Ngabdulrahim, juga Sech Ngabdulhamid

               

II  Periode sebelum perang dan sebab-sebab perang.
            Sedikit kembali pada periode awal hubungan Mataram-Belanda, ketika Susuhunan Pakubuwono III berkuasa di Mataram, terjadi pembagian wilayah menjadi 2 bahagian yaitu Surakarta yang dipimpin oleh Pakubuwono sendiri dan Yogyakarta dibawah pangeran Mangkubumi yang nantinya bergelar Sultan Hamengkubuwono, pembagian ini adalah hasil dari perjanjian Giyanti 1755, perjanjian ini disyahkan oleh pihak ke 3 yaitu belanda yang diwakili oleh Gubernur Nicolas Hastingh, pertanyaan mengapa Belanda turut campur dalam hal ini, adalah konsekwensi dari perjanjian 1749 yang telah disepakati antar Susuhunan Pakubuwono II, ayah Sunan Pakubuwono III. dalam perjanjian ini Pakubuwono II “menyerahkan” tanah Mataram kepada Belanda untuk diawasi karena melihat keadaan sultan yang sedang dalam keadaan yang sakit parah, bahkan Putra Mahkota Pakubuwono III yang masih kecil dititipkan kepada Belanda3, karena kenyataan inilah pihak Belanda selalu merasa berwenang dan bertanggung jawab atas setiap masalah di dalam keraton. Yoyakarta yang dalam hal ini adalah daerah pecahan Mataram sudah barang tentu menjadi wilayah yang dianggap Belanda sebagai titipan Sunan yang harus dijaga penuh dengan penuh tanggungjawab, denga dalih itu Belanda selalu tampil sebagai orang penting di Keraton, belanda.kegiatan Raja semakin mudah diawasi oleh Belanda, juga kenyataan yang sebelumnya bahwa daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Mataram dianexasi oleh Belanda antara lain Kerawang ,Semarang ,Cirebon, Rembang, Jepara, Surabaya, Pasuruhan,   Madura, keadaan ini mengisyaratkan pendapatan yang berkurang bagi kerajaan, hal ini diimbangi dengan diberlakukannya berbagai macam pajak kepada rakyat antara lain pajak pasar, pajak barang dagangan, pajak kepala dan lainnya pajak yang tentunya sangat memberatkan bagi rakyat, hal ini semakin menambah kebencian masyarakat Yogyakarta kepada belanda.
_____________________
“Menyerahkan” tanah Mataram kepada belanda bukan berarti menyerahkan sepenuhnya Tanah Mataram untuk dikuasai oleh Belanda.ini adalah adat kebiasaan bagi orang jawa yang hendak pergi jauh atau sudah mendekati ajal, untuk menitipkan harta milknya kepada orang yang dipercayainya atau sahabatnya, di sini kita melihat ada kesalahpahaman mandat penyerahan tanggung jawab dari Pakubuwono II kepada Belanda, atau bahkan secara sengaja dijadikan dalih dan alasan oleh Belanda untuk memperluas pengaruhnya di wilayah nusantara.
3.Sartono Kartodirjo, Sejarah perlawanan-perlawanan terhadap Kolonialisme,Departemen Pertahanan Keamanan, 1973 hal123-124
bahkan Daendles pernah menuntut persamaan antara Sultan dan Gubernur belanda dalam acara khusus dalam istana, memeperbolehkan belanda duduk sejajar dengan Raja, dan penghapusan kebiasaan penyerahan sirih oleh Belanda kepada Sultan.4 kenyataan-kenyataan di atas semakin memperjelas posisi keraton yang direndahkan dan penghinaan secara halus, secara umum dalam sebuah sumber dikatakan beberapa sebab musabab perang diponegoro yaitu:
1.      Diponegoro kecewa Dia tidak diangkat menjadi Sultan
2.      Peristiwa penyewaan tanah.
3.      Wilayah-wilayah Jawa yang berkurang akibat politik anexasi yang dilakukan Belanda
4.      Tekanan yang merugikan rakyat yang dilakukan pemungut cukai orang tionghoa.
5.      Merosotnya Budaya dalam kehidupan orang  jawa, juga budi pekertinya.
6.      Ketidakcakapan para residen dan pegawai Belanda yang di Jogjakarta.5
Puncaknya adalah ketika tanah nenek moyang Diponegoro di Tegalrejo, hendak dijadikan                                                 jalan oleh Belanda tanpa meminta persetujuan kepada Diponegoro, dengan kata lain Jalan yang akan dibuat melintasi tanah leluhur Diponegoro, ini terjadi pada tanggal 20 juli 1825, Belanda memasang tonggak-tonggak yang menjadi tanda proyek pembuatan jalan, Diponegoro yang tetap mempertahankan apa yang menjadi hak miliknya telah menambah suasana menjadi sedemikian panas, namun hal ini sebenarnya telah diantisipasi oleh Masyarakat, yang sejak ditancapkannya tonggak-tonggak itu, oleh Belanda atas perantara Patih DanurejaIV, rakyat Tegal Rejo mendukung penuh Diponegoro, bahkan mereka memepertanyakan  apa kira-kira yang akan menjadi tanda jika perang itu memang harsu terjadi, Diponegoro menjawab setelah adanya suara meriam. Pada tanggal 20 juli 1825, sekitar jam 5 petang, terdengarlah oleh rakyat suara meriam Belanda6.


_________________________________________
5.Sanusi Pane, , Sedjarah Indonesia, Djilid II. PN Balai Pustaka1965, Hal 33
6 Sartono Kartodirj,,Marwati Djoened Poesponegoro, op.cit hal:160-163


BAB III
JALANNYA PERANG

Setelah melihat tidak ada sikap kooperatif dari Belanda, serta dukungan dari beberapa patih terhadap belanda telah menjadi sebab-musabab yang memperkeruh suasana di wilayah itu.pihak belanda berusaha mengundang Diponegoro untuk datang ke Jogjakarta, namun secara tegas Diponegoro menolak undangan itu, pun ketika Pangeran Mngkubumi diutus oleh Belanda untuk membujuk Diponegoro, Diponegoro tetap menolak, bahkan Pangeran Mangkubumi balik mendukung Diponegoro. 20 juli 1825, Belanda mengirim ekspedisi  I,di bawah komando Chevallier, tujuannya tidak lain adalah untuk melumpuhkan posisis pangeran Diponegoro tersebut, serta menangkapnya7, sesuai dengan amanat Pangeran tentang pertanda dimulainya perang adalah suara meriam8, suara meriam terdengar pada saat pengiriman ekspedisi pertama ini. Terjadilah pertempuran yang pertama antara pasukan ekspedisi belanda itu dengan pendukung Diponegoro, pasukan ekspedisi menunggang kuda juga bersenjatakan meriam, pada akhirnya Tegalrejo dapat diambil alih oleh pasukan ekspedisi dan Tegal rejo dibumihanguskan, namun dengan caranya sendiri Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi bisa meloloskan diri, Diponegoro dan mangkubumi didikuti oleh Rombongan pasukan yang setia mendukung Diponegoro9. sebelumnya keluarga Diponegoro telah diungsikan ke daerah Desa Dekso, Selarong, bukit sebelah barat daya kota Jogyakarta, tempat ini dipilih menjadi pusat pertahanan pasukan Diponegoro, tentang berita perang ini sesungguhnya telah terkabar kemana-mana, orang jawa yang memberikan simpatinya kepada pangeran Diponegoro, memutuskan untuk ikut berjuang, disebutkan bahwa datanglah Kiyai Mojo, seoarang ulama di daerah Maja, atas usulnya dibentuklan kelompok-kelompok pasukan yang akan meberikan perlawanan yang seimbang kepada Belanda, hasilnya Pacitan dapat direbut pada tanggal 6 agustus 1825 dan Purwadadi menyusul pada tanggal 28 agustus 182510, perlawana-perlawanan terus dilakukan. Pangeran Diponegoro menugaskan Pangeran Adiwinoto dan Mangundipuro meminpin perlawanan di daerah Kedu, Pangeran Abubakar dan Tumenggung Joyomustopo, mengadakan perlawanan di daerah Lowanu, sedangkan untuk daerah Kulonprogo diserahkan kepada Pangeran Adisuryo dan anaknya Pangeran sumenegoro untuk memimpin perjuanagn,Tumenggung Cokronegoro di wilayah Gemplong, untuk wilayah sebelah utara kota Jogjakarta perjuangan dikomandoi oleh paman Diponegoro yaitu pangeran Joyokusumo, beliau dibantu oleh Tumenggung Surodilogo, di bahagian timur kota Jogjakarta diembankan kepada Suryonegoro dan Suronegoro,  markas besar di selarong yng dipimpin oleh Joyonegoro Sumodiningrat  dan juga Joyowinoto,sedangkan untuk daerah Gunung kidul dipimpin oleh Pangeran Singosari dan Warsokusumo,, di daerah Pajang  pimpinan perang diembankan kepada Mertoloyo,Wiryokusumo,Sindurejo dan Dipodirjo, di daerah sukowati juga ditempatkan pasukan perlawanan yang di[pimpin oleh Krtodirjo, wilayah strategis Semarang dipimpin oleh Pangeran Serang, sedangkan untuk daerah Madiun,Magetan dan Kediri,dipimpin oleh Mangunnegoro, beginilah kiranya pembagian tugas perlawanan yang akan dilancarkan pasukan jawa mengahadapi belanda, maka setelah diembankan tugas pada mereka segera mereka berangkat untuk menagamalkan tugas peperangan.11 Belanda mengutus Jenderal H.M De Kock, pada tanggal 29 juli 1825 De kock tiba di Semarang suatu kawasan strategis di sebelah utara kerajaan, De Kock melanjutkan perjalanan ke Surakarta, disana dia mendapat dukungan dari pakubuwono untuk menggagalkan serangan pasukan Diponegoro, dalam menghadapi pasukan Diponegoro, Belnada membutuhkan tentara tambahan yang di datangkan darti beberapa tempat antara lain adalah dari Semarang, mereka lewat Kedu, bantuan ada sekitar 200 orang pasukan dan juga mereka membawa uang 50.000 gulden banyaknya, namun naas bagi pasukan ini ketika melewati daerah Logorok, mereka diserang oleh pasukan diponegoro, ini adalah kemenangan manis perdana yang dituai oleh pasukan Diponegoro, hanya 15 orang pasukan yang tersisa di pihak belanda yang bias meloloskan diri, tentara Diponegoro merampas segala perbekalan korbannya itu dan membagi-bagikannya pada tentara Diponegoro12, kemenangan ini pulalah yang menambah semangat perjuanagn yang akan dijalankan oleh pasukan Diponegoro pada peperangan-peperangan berikutnya, namun kekalahan juga tidak luput dari pasukan Diponegoro ini, 9 desember 1825 pasukan Kartodirjo dan pasukan Pangeran Serang  terdesak, pangeran kartodirjo berhasil ditangkap dan ditawan Belanda, namun pangeran serang berhasil meloloskan diri. Disamping itu pasukan Sentot Alibasah Prawirodirjo dapat melumpuhkan pasukan musuh di daerah __________________________
7.Peter Carey, op.cit hal 64-65
8 Sartono Kartodirjo, Marwati Djoened Poesponegoro, op.cit, hal 162
9.Peter Carey, op cit hal 64-65
10.Sartono Kartodirjo, Marwati djoened op, cit hal 163
11.Srtono Kartodirjo, op,cit hal 136
Kasuruan, Diponegoro juga yang pada tanggal 9 Agustus 1826 dapat melumpuhklan perlawanan musuh. 30 juli 1826 terjadi pertempuran yang dahsyat di daerah Lengkong, pada pertempuran ini telah tewas seorang Letnan Belanda, dan juga 2 wali Hamengkubuwono V yaitu Pangeran Murdaningrat dan Panular, namun perlu dicatat bahwa kematian ini bukanlah ats kehendak pasukan Diponegoro namun karena keberpihakan beberapa orang keraton kepada Belanda, Belanda yang banyak dirugikan dalam perang ini merencanakan sebuah siasat yang bisa melumpuhkan pasukan Diponegoro, siasat yang digunakan ialah siasat Benteng Stelsel, yaitu sebuah siasat yang dijalankan dengan  mendirirkan benteng-benteng pertahanan Belanda di daerah yang masih menjadi wilayah kekuasaanya, sehingga dari benteng ini kelak akan dengan mudah diawasi pergerakan pasukan Diponegoro juga dengan cara ini dan membangun benteng baru di sekitar benteng yang telah ada diharapkan dapat menekan pasukan Diponegoro dan memepersempit ruang gerak pasukan ini13, demikanlah perang yang dahsyat telah terjadi hampir semua daerah Jawa turut serta dalam perang ini, oleh karena itu perang ini juga disebut sebagai perang jawa.namun perlu diketahui juga peran besar Diponegoro, Diponegoro mngerahkan pasukannya ke Wilayah Djokjakarta dan melakuakn penyeranga atas pasukan Mangkunegara, pada saaat itu tentara belanda sedang ada di utara, namun De Kock tetap mengirimkan pasukan untuk membantu pasukan Mangkunegara,walaupun terlambat, pasukan Mangkunegara dapat dibinasakan Diponegoro, maka sejak itu semua wilayah dari Borobudur hingga pantai selatan Jogjakarta jatuh ke tangan pasukan Diponegoro, Diponegoro juga mengalahkan tentara Belanda di daerah  Bantul,Kedjiwan dan delangu,sejak itu pula daerah jogja kecuai ibukota jatuh ketangannya juga daerah Surakarta bahagian barat, hingga mendekati keraton kecuali Klaten. Disini jelas kepemimpinan diponegoro yang berkelas dan penuh penaklukan juga dihormati para pengikutnya.
___________________________
Benteng Stelsel: adalah sasat Belanda untuk menekan posisi tentara Diponegoro dengan mendirikan Benteng-benteng pertahjanan dan menjadikannya sebagai pusat penyerangan dengan adanya benteng ini dengan mudah pasukan Diponegoro dapat dipantau dan dimusnahkan, strategi ini juga acap kali digunakan oleh Belanda dalam melumpuhkan perlawanan orang Jawa.
12 ibid, hal 137
13. Sartono Kartodirjo, Marwati Djoened, op,cit hal 164-165

III B Keadaan berbalik dan menuju perundingan
            Peperangan yang berlangsung lam ini telah menelan banyak korban juga kerugian yang tidakl sedikit diantara kedua belah pihak, pertempuarn ini juga yang menyadarkan Belanda untuk tidak meremehkan kekuatan pribumi yang begitu sulit mereka jinakkan. Jalur perundingan pun diusahakan oleh Belanda. Benih-benih perundingan sudah terlihat di belakangan hari pada pertempuran di pajang, yaitu antara pasukan Kyai Maja, dan Belanda, Pasukan Kiyai Maja terdesak dan terpaksa menandatangani pakta perdamaian November 1828, hal ini juga ditandai dengan penangkapan Kiyai Maja oleh Belanda, juga pada saat penyerangan Pasukan Diponegoro di pengasih, pasukan Diponegoro ini terdesak karena penyerangan Belanda yang terjadi pasa waktu salaat subuh, terjadi pertempuran besar pada  waktu itu, namun melihat kadaan Kiyai maja yang telah ada di Batavia, Belanda memanfaatkan keadaan ini, dengan menugaskan Kyai Maja untuk mengirim surat pada Diponegoro untuk segera berdamai dengan Belanda, surat itu dibawa oleh Ki Melangi dan Kasan Basari ke Pengasih, namun menegnai perundingan ini Diponegoro tetap menolak dan menyerahkan sepenuhnya kepada Raden Basah Prawirodirjo, Pangeran bei dan Adipati Danurejo, dengan memesankan jangan sampai keputusan yang dimabil menyalahi ayat-ayat alquran, dalam kenyataan yang terjadi setelah Kiyai Maja dapat diajak berunding, banyak pemimpin perjuangan yang juga memutuskan untuk menyerahkan diri kepada belanda dan bersedia melakukan perundingan, anatra lain adalah, pasukan yang dipimpin Ali Basah Sentot Prawiranegara, yang pantang menyerah tetap masih melakukan perlawanan,walaupun pada tanggal 20 desember 1828 pasukannya dapat merebut benteng Belanda di daerah Nanggulan, pasukan ini terpaksa melakukan perundingan dan penghentian peperangan, atas kenyatan yang menunjukkan pemimpin lain yang sudah menyeerah juga atas dasar surat yang berisi pesan perdamaian yang diinginkan oleh Belanda, Sentot akhirnya mau berunding dengan pihak Belanda, 24 oktober 1829, dia berangkat ke Jogja untuk menyerahkan diri, namun itu tidak berlaku begitu saja, Belanda sengaja menytujui syarat Sentot antara lain adalah, sentot tetap diijinkan memeluk agamanya, Islam. Pasukan Sentot tetap dibiarkan ada dan Sentot sebagai pemimpinnya, dan mereka tetap bisa memakai Sorban, melihat ini semua Diponegoro merasa terpukul, ditambah lagi gugurnya pangeran Joyokusumo ahli taktik dan renacana perang, setelah peristiwa penyerahan itu semakin banyak pula pemimpin perang yang turut menyerah antara lain,pangeran Ario suriokusumo, pada tanggal 1 november 1829, juga Kertopengalasan  menyerah pada pertengahan November 1829, Josodirgo desember 1829 dan pangeran Dipokusumo 18 januari 1830, namun sebelum sentot menyerah kepada belanda, sudah ada pula sebahagian anggota kerajaan yang menyerah yaitu, istri Mangkubumi dan 3 anaknya bernama Wiryokusumo,wiryoatmojo,dan Suradi, yang pada akhirnya bisa membujuk ayah mereka Mangkubumi untuk menyerah kepada pihak belanda14

III.C Akhir perjuangan dan penangkapan Diponegoro
Melihat kenyataan bahwa banyak pemimpin yang menyerah kepada Belanda maka terpukul hebat lah  pangeran Diponegoro sebagai pemimpin terbesar, Belanda dengan gencarnya tetap berupaya agar diponegoro mau diajak berunding dan menghentikan peperangan, puncaknya adalah ketika H.M De kock  mengutus Kolonel Clerens untuk mengajak Diponegoro untuk berunding dan ternyata rencana ini berhasil dan untuk hal itu H.M.De Kock mengatur rencana licik dan curang dia menginstruksikan kepada orang-orangnya untuk sesegera mungkin menangkap Diponegoro apapun hasil dari perundingan, hal ini tentu saja bertolak belakang seperti hasil perjanjian terdahulu yang menytakan bahwa jika perundingan gagal dan tidak dicapainya sebuah kesepakatan maka Diponegoro dan pasukannya dibiarkan pulang dengan merdeka. Perundingan sempat ditunda karena kebetulan saat itu adalah hari bulan suci Ramadhan, hingga tibalah waktunya perundingan yang berakibat tidak baik bagi pasukan Diponegoro itu, 28 Maret 1830,di Magelang perundingan yang diadakan mengalami kegagalan, namun sesuai perjanjian sebelumnya jika perundingan mengalami kebuntuan atau kegagalan maka pasukan Diponegoro berhak untuk pulang dan kembali ke tempatnya, di lain pihak Belanda mengingkari janjianya tersebut dan melaksanakan rencana licik H.M.De Kock, untuk menangkap Diponegoro.sebelumnya pun Belanda telah menyiapkan pasukan di sekitar wilayah perundingan, Diponegoro yang datang bersama anaknya ditangkap oleh Belanda, namun kewibawaan Diponegoro masih tetap terjaga, hal ini dibuktikan dengan pernyatannya ketika H.M De Kock membicarakan perundingan dengan dia, sebelum penangkapan, H.M. De Kock yang menyatakan jika perundingan gagal maka otomatius peperangan akan dimulai lagi, Diponegoro dengan tegas membalas, dengan mengatakan mengapa pasukan belanda harus takut berperang jika memang merasa mampu dalam berperang dan masih lengkap dengan pasukannya.15. dengan kenyataan penangkapan ini tentu saja sangat terasa bagi pergerakan di jawa, pemimpin tertinggi yang telah ditawan belanda menyebabkan perang semakin tidak terlihat dan padam sama sekali, Diponegoro sendiri diasingkan ke Manado  
3 mei 1830, Belanda merasa pengawalan di manado sangat minim maka mereka memindahkan Diponegoro ke Makassar, Diponegoro sendiri meninggal di pengasingannya di makassar, 8 januari 1855 sedangkan sentot dikirim ke Minagkabau untuk membantu penumpasan gerakan kaum paderi, dari hal ini banyak menduga terjadi penghianatan Sentot, namun karir Sentot di minangkabau segera berakhir setelah di ditarik pemerintah belanda, lalu diasingkan ke Cianjur, kemudian dipindahkan lagi ke Bengkulu, sedangkan kiyai Maja diasingkan ke  Minahasa.16















_______________________________
14. Ibid, hal 167-169
15.Sanusi Pane, op,cit hal 69-70
16 Sartono katodirjo, marwati djoened, op,cit  hal 170

DAFTAR PUSTAKA

Kartodirjo,Sartono, Marwati djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, 1975.Sejarah nasional Indonesia IV,Jakarta:DEPDIKBUD

Pane,sanusi 1965, Sejarah Indonesia II, Jakarta:P.N.Balai Pustaka

Kartodirjo,Sartono, 1973 Sejarah Perlawanan terhadap Kolonialisme, Jakarta: DEPHANKAM, PUSAT SEJARAH ABRI

Carey, Peter, 1986, Asal usul Perang jawa(pemberontakan Sepoy dan Lukisan Raden saleh), Jakarta:Pustaka Azet

Yatim, Badri,2005. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada













PERANG DIPONEGORO
(1825-1830)

OLEH:
KEVIN BOB L(0906523845)
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
2010
















































































































[1] Sartono Kartodirjo,Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia DEPDIKBUD, 1975, hal:160-161

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar